https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/issue/feedJournal Agroecotech Indonesia (JAI) 2026-07-29T00:00:00+00:00Agroteknologi UIMjournal.agroecotech@uim-makassar.ac.idOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>ournal Agroecotech Indonesia (JAI)</strong> (online issn : | print issn : ) diterbitkan oleh <strong>Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar. </strong>Jurnal ini mengakomodir artikel/ karya ilmiah meliputi agronomi, ilmu tanah, teknologi benih, pemuliaan tanaman, pascapanen, hama dan penyakit tanaman dan pengendaliannya. Naskah yang dimuat dapat berupa hasil penelitian, telaah/tinjauan literatur, penelitian singkat (short communication) dan gagasan penting dalam bidang pertanian.</p>https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/303PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG DAUN (Allium fistulosum L.) PADA BERBAGAI KOMBINASI PUPUK ORGANIK DAN UREA2026-07-07T08:04:39+00:00Andrian Dandrianahlan819@gmail.comHanafihanafisyam65@gmail.comDjuniartyandriandahlan047@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pupuk organik dan urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang daun. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi: P0 (kontrol), P1 (pupuk kandang ayam 20 ton/ha), P2 (pupuk kandang kambing 20 ton/ha), P3 (pupuk kandang sapi 20 ton/ha), P4 (pupuk kandang ayam 20 ton/ha + urea 200 kg/ha), P5 (pupuk kandang kambing 20 ton/ha + urea 200 kg/ha), dan P6 (pupuk kandang sapi 20 ton/ha + urea 200 kg/ha). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah anakan per rumpun, bobot segar per rumpun, bobot segar per petak, dan konversi bobot segar per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk organik dan urea berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Perlakuan P4 (pupuk kandang ayam + urea) memberikan hasil terbaik dengan tinggi tanaman 52,34 cm, jumlah daun 48,56 helai, jumlah anakan 11,45 batang, bobot segar per rumpun 256,78 g, dan produksi 51,19 ton/ha, meningkat rata-rata 76,36% dibandingkan kontrol.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI) https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/307Uji Aktivitas Bioherbisida Ekstrak n-heksana Beberapa Jenis Tanaman Terhadap Pertumbuhan Amaranthus spinosus L.2026-07-07T08:24:49+00:00Salsabila Hafizahsalsabila6@mhs.usk.ac.idGina Eridaginaerida@gmail.com.idErita Hayatierita@usk.ac.id<p>Salah satu alternatif pengendalian gulma yaitu pemanfaatan senyawa alelopati dari tumbuhan sebagai bioherbisida alami. Pelarut merupakan salah satu komponen penting dalam proses ekstraksi untuk memperoleh senyawa bioaktif dari tumbuhan. Pelarut <em>n-</em>heksana berfungsi menarik senyawa berminyak, lipid, dan terpenoid nonpolar dari tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh aplikasi ekstrak <em>n-</em>heksana beberapa jenis tanaman terhadap pertumbuhan gulma bayam duri serta mengetahui potensi tanaman sebagai bioherbisida. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Gulma dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada bulan Desember 2025 sampai Februari 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri atas 17 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi kontrol negatif (Aquades), kontrol positif (2, 4-D pada 0,686 kg b.a ha<sup>-1</sup>), serta ekstrak n-heksana pinus (<em>Pinus merkusii)</em>, jati (<em>Tectona grandhis)</em>, akasia <em>(Acica mangium)</em>, ketapang (<em>Terminalia catappa)</em>, dan jarak pagar (<em>Jatropha curcas</em>) dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak <em>n-</em>heksana pinus dan akasia efektif pada konsentrasi diatas 30%. Sedangkan pada ekstrak <em>n-</em>heksana jati dan jarak pagar efektif mengendalikan gulma pada konsentrasi diatas 20% dan pada ekstrak <em>n-</em>heksana jarak pagar diatas konsentrasi 20% mengalami penghambatan pertumbuhan gulma bayam duri. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa senyawa steroid terdapat pada seluruh ekstrak beberapa jenis tanaman, sedangkan senyawa terpenoid hanya ditemukan pada pinus. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak <em>n-</em>heksana jati dan jarak pagar berpotensi dikembangkan sebagai bioherbisida alami untuk pengendalian gulma bayam duri.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI) https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/306PENGARUH APLIKASI EKSTRAK ETIL ASETAT BEBERAPA JENIS TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN (Amaranthus spinosus L).2026-07-07T08:19:21+00:00Dwika Maha Reni Swandaswanda.22@mhs.usk.ac.idGina Eridaginaerida@gmail.comTrisda Kurniawantrisdakurniawan@usk.ac.id<p>Penggunaan herbisida sintetis secara terus-menerus untuk mengendalikan gulma dapat menyebabkan resistensi gulma, pencemaran lingkungan serta dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan bioherbisida berbahan alelopati tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanaman yang paling berpotensi dijadikan bioherbisida terhadap pertumbuhan gulma bayam duri. Pelarut memiliki peranan penting dalam menarik senyawa aktif selama proses ekstraksi. Keberhasilan ekstraksi dipengaruhi oleh kesesuaian polaritas antara pelarut dan senyawa yang diekstraksi. Etil asetat dipilih karena bersifat semi polar sehingga mampu mengekstraksi senyawa polar dan nonpolar yang diduga berperan sebagai alelokimia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap non faktorial dengan 17 perlakuan dan 3 ulangan yaitu, kontrol positif (2, 4-D), kontrol negatif (aquades), ekstrak etil asetat daun pinus, akasia, jati, ketapang dan jarak pagar masing-masing konsentrasi 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak etil asetat jati dan jarak pagar konsentrasi 20%, akasia, pinus dan ketapang konsentrasi 30% menyebabkan kematian gulma bayam duri pada 7 HSA.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI) https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/304PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) PADA BERBAGAI SISTEM TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK2026-07-07T08:13:18+00:00A. Agung Nugrahaandicok760@gmail.comRahman Syafarandinugraha610@gmail.comHerman Nursamanhermannursaman89@gmail.com<p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem tanam dan dosis pupuk NPK mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Oryza sativa L.). Studi ini dilakukan dari Juli hingga Oktober 2025 di sawah petani di Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang. Eksperimen faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor digunakan. RAK terdiri dari sistem tanam (tandur tegel, jajar legowo 2:1, dan jajar legowo 4:1), serta dosis pupuk NPK (150, 300, dan 450 gram per petak, masing-masing). Ada 27 unit percobaan karena tiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk NPK berdampak nyata pada tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, dan jumlah malai per rumpun, serta bobot gabah per hektar. Di sisi lain, sistem tanam berdampak nyata pada jumlah anakan produktif, tinggi tanaman, bobot gabah per petak, dan bobot gabah per tanaman. Tidak semua parameter yang diamati benar-benar dipengaruhi oleh interaksi antara sistem tanam dan dosis pupuk NPK.Untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi di lahan sawah, sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan dosis pupuk NPK 300-450 g/petak dianggap sebagai kombinasi perlakuan terbaik.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI) https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/249Uji Formulasi Umpan Bahan Makanan yang Bersifat Atraktan Terhadap Sitophilus Orizae2026-07-07T07:50:51+00:00arman syaharsyahfl02@gmail.comAde Sugiartiadesugiartikumalasari@gmail.comZulfitrianyarsyahfl02@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas formulasi umpan bahan makanan yang bersifat atraktan terhadap hama gudang Sitophilus oryzae menggunakan ekstrak daun Chromolaena odorata. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi ekstrak (5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%) serta satu kontrol, masing-masing dengan empat ulangan. Pengujian dilakukan menggunakan olfaktometer untuk mengamati tingkat ketertarikan serangga terhadap ekstrak selama 144 jam. Parameter yang diamati meliputi jumlah serangga yang tertarik dan preferensi serangga uji terhadap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 5% dan 10% memberikan tingkat ketertarikan tertinggi (kategori “cukup”) dengan persentase 40,1–60%, sedangkan konsentrasi 15%, 20%, dan 25% berada pada kategori “sedang” dengan persentase 20,1–40%. Perlakuan konsentrasi 10% menghasilkan preferensi tertinggi dengan rata-rata 1,8% pada 144 jam setelah infestasi. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun C. odorata memiliki potensi sebagai atraktan alami yang efektif untuk mengendalikan populasi S. oryzae di gudang penyimpanan. Penggunaan atraktan nabati dapat menjadi alternatif ramah lingkungan dalam pengendalian hama pascapanen.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI) https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/273PERTUMBUHAN SETEK LADA PADA BERBAGAI KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN EKSTRAK BAWANG MERAH2026-07-07T08:27:42+00:00Yiyin Aprilini H. Mahmudyiyinaprilinimahmud@gmail.comHanafihanafisyam65@gmail.comjamila messajamilamessa250562@gmail.com<p>This study aimed to determine the effect of shallot extract concentration and soaking time on the growth of pepper cuttings. The study was conducted in Tapporang Village, Batulappa District, Pinrang Regency, South Sulawesi Province, from April to July 2025. This study was conducted as a two-factorial experiment arranged in a randomized block design. The first factor was the shallot extract concentration, consisting of three levels: 0 %, 50 %, and 75 %. The second factor was the soaking time, consisting of three levels: 3 hours, 6 hours, and 9 hours. There were nine treatment combinations with three replications, resulting in a total of 81 experimental units. The results showed that no shallot extract concentration treatment had a significant effect on the growth of pepper cuttings. No shallot extract soaking time treatment had a significant effect on the growth of pepper cuttings. The combination of 50 % shallot extract and a 3-hour soaking time tended to produce better pepper cutting growth, with an average plant height of 53.33 cm, 8.33 leaves, 8 shoots, 33.00 cm root length, and 6 ml root volume.</p>2026-08-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI) https://jai.fapertauim.ac.id/index.php/JAI/article/view/282Inventarisasi Hama Pada Berbagai Varietas Ubi Jalar (Ipomoea batatas L)2026-07-07T08:32:36+00:00Muh. Mutahajid Almanar Mbsipumbi@gmail.comeka lestariekalestari80@uim-makassar.ac.idArdiansyah Syafaatajidmemorize@gmail.com<p><em>Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan komoditas pangan strategis yang berperan dalam diversifikasi dan ketahanan pangan nasional. Namun, produktivitas ubi jalar masih sering terkendala oleh serangan hama, yang intensitas dan komposisinya diduga dipengaruhi oleh perbedaan varietas. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis hama, menganalisis tingkat serangan, serta mengkaji pola keberadaan hama pada beberapa varietas ubi jalar. Penelitian dilaksanakan di Desa Timoreng Panua, Kecamatan Pancarijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada September–Oktober 2025 menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada empat varietas ubi jalar, yaitu Antin 3, Benindo, Beta 1, dan Sari, yang disusun dalam 12 petak dengan total 120 tanaman sampel. Pengumpulan data hama dilakukan melalui pengamatan langsung, penggunaan sweeping net dan yellow trap, serta identifikasi laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan komposisi jenis hama dan tingkat populasinya pada setiap varietas. Sebanyak 12 jenis hama dari beberapa ordo teridentifikasi, dengan hama dominan antara lain Cylas formicarius, Spodoptera litura, Brachmia convolvuli, dan Aspidomorpha miliaris. Varietas Sari menunjukkan tingkat populasi dan keragaman hama tertinggi, yang mengindikasikan kerentanan lebih tinggi terhadap serangan hama. Temuan ini menegaskan bahwa karakter varietas berpengaruh terhadap keberadaan dan intensitas serangan hama, sehingga strategi Pengendalian Hama Terpadu perlu disesuaikan dengan varietas dan kondisi agroekosistem setempat.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Agroecotech Indonesia (JAI)